Ketahanan Pangan Peduli Covid

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sembako Peduli Covid

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 19 Mei 2020

Hikmah Ramadhan


HIKMAH RAMADHAN



Ketika kita diberikan kembali peluang oleh Allah Swt untuk masuk di dalam bulan Ramadhan, ambillah satu waktu, kemudian duduk dan bertafakkurlah. Rasakan seberapa besar karunia dan pemberian yang Allah tidak henti guyurkan kepada kita, kepada para mukminin.

Kita harus tau bahwa pemberian Allah terhadap kita, tentunya akan berbeda masing-masing orangnya. Tidak sama antara yang satu dengan lainnya, dan itu semua bergantung daripada adab-adab kita di dalam bulan Ramadhan. Juga bergantung pada kesiapan diri kita, baik kesiapan dzahir maupun kesiapan bathin di dalam menyambut dan mengisi hari-hari di dalam Ramadhan.

Berapa banyak orang-orang yang berharap masih diberikan kesempatan mencicipi Ramadhan yang indah di atas muka buminya Allah. Kesempatan untuk berlomba mengejar kebaikan dan keberkahan didalamnya. Namun masa mereka telah habis, mereka telah pindah ke alam yang berbeda. 

Dan keinginan itu hanya sekadar menjadi cita yang tidak mungkin untuk diwujudkan lagi oleh mereka. Dan jika esok adalah kesempatan kita, sudahkah ada tabungan yang menjadikan kita tidak akan menyesal ketika ajal itu datang kepada kita? Sudah siapkah kita dengan ajal yang tidak menentu datangnya kepada kita?

Maka senantiasa ingatlah pesan Baginda Muhammad SAW :

(( اَلْكَيِّسْ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ))

“Orang yang pandai adalah yang senantiasa menghisab (mengevaluasi) dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian.”

Artinya, dengan usia mereka yang teramat sangat singkat, mereka berusaha untuk melakukan husnul a3mal (sebaik-baiknya amalan) untuk kehidupan mereka yang kekal kelak di dalam surga Allah SWT.

Lewatilah satu bulan Ramadhan ini dengan penuh kegembiraan. Karena didalamnya Allah begitu memudahkan kita

1. Untuk mendapatkan ampunan
2. Sebab-sebab untuk dihapuskan segala dosa dan kesalahan
3. Allah berusaha untuk membersihkan hati kita daripada noda, karat, dan penyakit-penyakit hati
4. Dan Allah ingin mengeratkan dan menguatkan kembali hubungan antara kita (makhluk) dan Khaliq (Penciptanya).

Lalu pertanyaannya. Dari sekian banyak kebaikan yang telah Allah berikan, dan tentunya masih banyak lagi kebaikan yang tidak mampu untuk kita sebutkan.
“Bagaimakah muamalah kita dengan-Nya?”

Yg sllu berkasih kepada kita tanpa kita meminta. Yg sllu memberi, tanpa kita memohon. Dan sesungguhnya kita-lah yang paling butuh dengan Allah. Di setiap langkah, setiap nafas, setiap detik, setiap kedipan mata. Tidak ada tempat buat kita bersandar yang lebih agung selain kepada Allah Ta’ala.

Kita dihidupkan di dalam dunia yang kita tahu, dunia itu sendiri merupakan hal yang perlu untuk kita waspadai. Begitu banyak tipu daya dan perkara yang membuat kita menjadi hamba yang ghaflah (lalai). Sungguh celaka orang-orang yang saat mereka diberikan kesempatan untuk hidup di dunia, tempat untuk mereka mengenal siapa Tuhannya, namun mereka lebih memilih jalan untuk mengikuti syahwat mereka dan mengumpulkan dunia. 

Padahal ketika kita berpikir dengan akal yang sempurna, semua itu tidak akan pernah ada maknanya. Dunia dan isinya tidak pernah memberikan kemanfaatan abadi kepada kita.
Jika kita mengikuti syahwat dan mencintai dunia, maka jadilah kita hamba syahwat dan hamba dunia. Sedangkan kita harus sadar, hakikat diri adalah hamba Allah Ta’ala, bukan hamba selainNya.

حَيَاةُ الدُّنْيَا زَمَانً قَلِيْلٌ جِدًّا قَلِيلْْ – وَ وَقْتًا قَصِيْرًا جِدًّا قَصِيرْ

“Kehidupan dunia (beserta isinya) berada pada masa yang teramat singkat, dan pada waktu yang teramat pendek.”

Dan dikatakan, jika seorang hamba mengetahui harga atau kadar dari setiap nikmat yang Allah berikan, maka ia akan menghabiskan umur kita seluruhnya hanya untuk bersyukur kepada Allah SWT.

(( وَ إِنَّ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللَّهَ لَا تُحْصُوهَا ))

“Dan apabila engkau mencoba untuk menghitung daripada nikmat Allah, seumur hidup pun engkau tidak akan pernah bisa untuknya.”

Terlebih di dalam bulan Ramadhan, yang mana hari-harinya merupakan:

 Hari Tashfiyah (hari pensucian hati, akal dan bashirah kita)
 Hari Tarqiyyah (hari dimana saat kita menyuguhkan adab yang baik, maka setiap saatnya kita akan diangkat pada kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala)
 Hari Tashihul Wijhah (hari dibenahinya penghadapan kita kepada Allah)
Hari Nailul Darajah (hari pencapaian derajat yang pantas untuk kita di sisi Allah Ta’ala)

Teringat daripada kisah Syekh Muhammad Al-Majdub. Setiap kali masuk ke dalam awal bulan yang baru, Ayahnya memanggil Beliau kemudian meminta kepadanya untuk dibawakan Al-Qur’an. Ketika saat menyerahkan Al-Qur’an kepada Ayahnya, tidak dilepaskan oleh Ayahnya, kecuali sang Ayah sambil berkata “Wahai Muhammad, berjanjilah kepadaku sesuai dengan isi yang ada di dalam kitab Allah ini, bahwasanya engkau tidak akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala di bulan ini.” Dan memang jelas perintah di dalam Al-Qur’an adalah untuk tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Sesaat Syekh Muhammad diam, tidak menjawab dan berpikir bahwa satu bulan bukanlah waktu yang lama. Lalu Syekh Muhammad menyetujuinya. Maka kemudian Beliau menjalankan waktu satu bulan itu dengan meninggalkan berbagai macam kemaksiatan karena ia telah berjanji dengan Ayahnya di atas Al-Quran.

Sempurna satu bulan, Beliau melapor kepada Ayahnya bahwa ia telah menunaikan janjinya. Dan kembali, Ayahnya meminta Beliau berjanji. Begitu setiap datangnya awal bulan, hingga akhirnya dia telah terbiasa hari-harinya tidak melakukan kecuali ketaatan. Sampai kemudian Syekh Muhammad berkata, “Sejak saat itu sudah tidak ada lagi janji-janji, sejak aku terbiasa, maka terbuka bagiku pintu yang menyambungkan antara diriku dengan Baginda Muhammad sampai bahkan aku bisa melihatnya dalam keadaan nyata bahkan sampai seluruh daripada gerak gerikku berdasarkan daripada perintah Nabi Muhammad SAW.”

Sungguh kenikmatan yang begitu agung dan indah, yang mana ini tidak diraih dengan sesuatu yang ringan, namun membutuhkan ijtihad dan kesungguhan luar biasa. Maka semoga Allah mentaufiqkan kepada kita agar bisa bersungguh-sungguh kepada Allah SWT sehingga kita pantas untuk diberikan hadiah yang besar dari sisi-Nya..


Hikmah Di Balik Kerinduan


Ada Hikmah di Balik Kerinduan



Karena kerinduan itulah maka kaum Muslim tak pernah lepas memanjatkan doa kepada AllahRasulullah SAW berkata, “Tha’un (wabah penyakit) adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman,” (Riwayat Bukhari).

Syafiq, seorang remaja di pinggiran Jakarta, menangis tersedu-sedu usai mengumandangkan azan Dzuhur di hari Jumat kedua setelah pemerintah setempat tak memperbolehkan masjid menggelar shalat Jumat. “Ia sedih. Ia rindu shalat berjamaah,” kata sang ibu menjelaskan mengapa anaknya menangis usai azan.

Pak Manna, laki-laki tua di Kalimantan Timur, pada suatu siang menatap masjid Ar Riyadh dari kejauhan dengan tatapan rindu. Masjid yang selalu didatanginya setengah jam sebelum kumandang azan itu tak bisa ia dekati. DKM masjid melarang jamaah yang telah berusia 50 tahun untuk sholat bersama-sama di masjid karena imun tubuhnya lemah.

Kerinduan kepada masjid tentu banyak dirasakan oleh mereka yang dekat dengan masjid, sebagaimana Syafiq dan Pak Manna. Rindu saat mengangkat tangan bersama-sama seraya mengucapkan takbir, rindu saat sujud dan rukuk bersama-sama, dan rindu saat-saat duduk berzikir dan berdoa sambil menunggu iqomah dikumandangkan.

Karena kerinduan itulah maka kaum Muslim tak pernah lepas memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, agar Sang Pemilik Kuasa segera mengakhiri musibah ini. Doa yang terlantun di malam-malam buta sambil berurai air mata penuh harap, melebihi harapan seorang anak kepada ibunya, atau seorang budak kepada tuannya. Terasa begitu tak berdayanya manusia dan begitu besarnya kuasa Allah Ta’ala.

Kerinduan itu justru mendekatkan kita kepada Sang Pemilik Langit dan Bumi lewat lantunan doa yang penuh harap. Bahkan boleh jadi hari-hari belakangan ini kita justru lebih dekat kepada Allah Ta’ala dibanding hari-hari biasa. Nikmat apalagi yang melebihi kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya?

Di Depok, Jawa Barat, seorang ketua RT menulis di dinding facebooknya, “Salah satu hikmah dari musibah ini adalah terasa bahwa ngumpul itu sebuah nikmat yang selama ini kurang kita syukuri.”
Bukan mereka tak pernah bertemu muka sebelumnya. Selama ini mereka kerap berpapasan saat hendak shalat berjamaah di masjid. Tapi, pertemuan itu berlangsung begitu saja. Hanya sepintas! Setelah itu mereka larut dengan pekerjaan masing-masing. Hanya sekali-kali saja mereka berkumpul dan bersenda gurau.
Wajar bila wabah ini telah memupuk kerinduan mereka untuk kembali bertemu, berjabat tangan, saling memeluk erat, dan bersenda gurau. Wabah ini rupanya telah menyadarkan mereka akan kenikmatan bersilaturahim. Seringkali kenikmatan itu baru amat terasa apabila ia telah dicabut oleh Allah.
Begitulah Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita bahwa segala ketentuan-Nya tak ada yang sia-sia bagi orang yang beriman. Berdiamnya orang beriman di rumah karena wabah, akan diganjar oleh Allah Ta’ala pahala sebagaimana pahala orang yang mati syahid meskipun ia sebetulnya tidak meninggal dunia.

Andai pun ia terkena wabah tersebut, lalu lewat perantaraan itu Allah Ta’ala mencabut nyawanya, maka kematiannya pun tak sia-sia. Allah juga menganugerahinya pahala sebagaimana pahala orang yang mati syahid.

Rasulullah SAW berkata, “Tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, tidak keluar dari negeri tersebut, lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.” (Riwayat Bukhari). *


Senin, 18 Mei 2020

Mengapa Zakat Menyucikan Harta?


Mengapa Zakat Menyucikan Harta?



Jika kamu telah menunaikan zakat hartamu, maka engkau telah menghilangkan potensi keburukannya bagimu Assalamu’alaikum wr.wb.

Ustad, pengasuh rubrik yang saya hormati, saya bekerja sebagai arsitek dan masih belum mengerti secara mendalam tentang zakat maal bisa mensucikan harta. Sebenarnya, apa yang dimaksud zakat maal dan mengapa zakat itu bisa mensucikan harta kalau saya berzakat?

Terimakasih
Dini | Jakarta
Jawab:

Waalaikumsalam wr wb.
Zakat termasuk salah satu rukun Islam. Dengan posisi sebagai salah rukun Islam, maka wajib bagi setiap Muslim untuk memahaminya dan sekaligus –jika memenuhi syarat- harus menunaikannya. Memang dalam banyak perbincangan, zakat sering kali digabung dengan kata tambahan maal yang memang masih merupakan kosa kata Arab.

Maal sendiri berarti harta atau kekayaan. Dengan demikian terjemah dari zakat maal adalah zakat kekayaan. Kekayaan inipun juga tidak semuanya, tetapi dengan kriteria tertentu seperti harta dagangan, peternakan, hasil pertanian, emas/perak dan yang sehukum denganya. Jadi zakat maal ini wajib dilakukan dengan sebab utama berupa memiliki harta yang memenuhi ketentuan syariat.

Sebutan zakat maal ini, juga biasa digunakan untuk membedakan dengan zakat fitrah atau lebih tepatnya adalah zakat fithr. Walaupun sama-sama wajibnya dan sama-sama hartanya, tetapi zakat ini diwajibkan karena fithr yaitu berbuka dari kewajiban berpuasa selama Ramadhan.

Adapun mengenai fungsi dan keutamaan zakat berupa penyucian, sebenarnya tidak hanya menyucikan harta tetapi justru lebih tegas berfungsi menyucikan pelakunya. Allah sendiri yang memerintahkan sekaligus menunjukkan fungsinya dengan menyatakan:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mengembangkan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(QS:  Al-Tawbah:103)

Al-Sa’di menerangkan, yang dimaksud dengan kata “membersihkan” di situ adalah membersihkan penunai zakat dari dosa dan akhlaq yang hina.( al-Sa’di:I/350) Misalnya sifat pelit, rakus, individualis dan sebagainya.

Sedangkan sebutan zakat mensucikan harta, maksudnya adalah ketika seseorang telah menunaikan zakat dari kekayaannya, berarti ia telah membersihkan hartanya dengan cara menghilangkan hak orang lain yang masih bercampur dengan hartanya itu. Sebutan demikian didasarkan pada beberapa sabda Nabi ﷺ.

Pertama, saat beliau bersabda:

إِذَا أَدَّيْتَ زَكَاةَ مَالِكَ ، فَقَدْ أَذْهَبْتَ عَنْكَ شَرَّهُ

“Jika kamu telah menunaikan zakat hartamu, maka engkau telah menghilangkan potensi keburukannya bagimu.” (HR. al-Hakim)

Kedua, jikapun kemudian seseorang tetap enggan menunaikan zakatnya yang merupakan hak orang lain dan kukuh untuk mempertahankannya bercampur dengan hartanya, maka Nabi memperingatkan:

مَا خَالَطَتِ الصَّدَقَةُ أَوْ قَالَ الزَّكَاةُ مَالا إِلا أَفْسَدَتْهُ

“Tidaklah sedekah –atau Nabi berkata- zakat (yang belum ditunaikan) itu bercampur dengan harta yang lain, kecuali ia akan merusakkannya.” (HR: al-Bazzar)

Semoga dengan demikian menjadi jelas tentang maksud zakat maal serta fungsinya dan berlanjut dengan anugerah kekuatan iman untuk melaksanakannya. Amin.*



Zakat Untuk Masjid Dan panti Asuhan.Bolehkah?


Bolehkah Zakat untuk Masjid dan Panti Asuhan?


Pada komunitas yang potensial mempunyai cadangan dana untuk membangun masjid dari dana non zakat, maka tidak dapat menggunakan dana zakat untuk membangun 

Assalamu’alaikum wr wb

Ustadz yang terhormat, bolehkah dana zakat diperuntukkan bagi pembangunan masjid atau asrama panti asuhan? Karena ada teman yang mengatakan kalau hal itu tidak boleh.

Mohon jawabannya, terima kasih –Dian
Jawab:
Wa’alaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh
Zakat adalah suatu bentuk kepedulian sosial yang Allah wajibkan atas kaum muslimin yang memenuhi syarat. Sektor-sektor sosial yang hendak dientaskan oleh zakat telah Allah tentukan sebagaimana firmannya:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 60)

Tampak jelas bahwa secara langsung Allah tidak menyebut masjid/tempat ibadah dan panti asuhan adalah termasuk dalam bagian sektor yang dapat dibiayai oleh zakat. Dalam hadispun tidak didapati adanya riwayat Nabi menyatakan, melakukan maupun menyetujui adanya pendistribusian ke sektor itu. Namun, masalahnya, apakah keduanya termasuk dalam salah satu di antara asnaf 

(golongan/sektor) yang delapan itu?

Terkait dengan penggunaan untuk panti asuhan yang memang dikhususkan bagi anak-anak terlantar dan kekurangan, maka sangat mudah untuk dipahami akan kebolehannya, -terlepas apakah si terlantar tersebut yatim maupun tidak- sebab, mereka ini termasuk dalam golongan fakir atau miskin. Konsekwensinya, karena panti tersebut dibangun dengan menggunakan uang fakir miskin, maka secara permanen gedung tersebut beserta fasilitas yang dibiayai dengan jatah sektor itu, harus diperuntukkan bagi mereka.

Adapun pembangunan masjid apakah termasuk dalam salah satu di antara asnaf delapan, utamanya fi sabilillah?

Di sini terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Jumhur ulama berpendapat, makna fi sabilillah hanya terbatas pada jihad, sehingga bentuk-bentuk pendistribusian untuk membangun masjid, jembatan, jalan dan beasiswa pendidikan –misalnya- tidak dapat dibiayai dari jatah golongan ini.

Sementara al-Kasani dari Madzhab Hanafi memaknai fi sabilillah sebagai segala bentuk sektor kebaikan. Tetapi Madzhab Hanafi mensyaratkan, zakat harus diserahkan sebagai hak milik seseorang. Maka dari itu, sekalipun pembangunan masjid dan contoh lain di atas termasuk dalam sektor 

kebaikan, tetap saja tidak dapat dibiayai dengan dana zakat, sebab masjid tidak dapat dimiliki oleh seseorang, baik pribadi maupun kolektif. (Wahbah al-zuhaili, al-Fiqh al-Islami, II/875)

Dalam menengahi perbedaan ini, al-Qardhawi memperkuat pendapat jumhur ulama, fi sabilillah adalah jihad (perjuangan), tetapi dengan pengertian lebih luas yang meliputi perjuangan bersenjata (inilah yang lebih cepat ditangkap oleh pikiran), jihad ideologi (pemikiran), jihad tarbawi (pendidikan), jihad da’wi (dakwah), jihad dien (perjuangan agama), dan lain-lainnya. Sebab kesemuanya untuk memelihara eksistensi Islam dan menjaga serta melindungi kepribadian Islam dari serangan musuh (Fiqh al-Zakah : 638).

Maka dengan keluasan makna jihad ini, begitu pula makna asnaf yang lain, mengenai pembangunan masjid ini dapat dipilah sebagai berikut:

a. Untuk komunitas miskin yang belum ada masjid bagi mereka dan tidak mempunyai potensi dana sosial non zakat untuk membangunnya, maka boleh bagi mereka menggunakan dana zakat atas nama/dari bagian fakir dan miskin. Sebab, bagi komunitas Muslim, masjid adalah termasuk dalam kebutuhan primer.

b. Pada komunitas yang potensial mempunyai cadangan dana untuk membangun masjid dari dana non zakat, maka tidak dapat menggunakan dana zakat untuk membangun.

c. Adapun komunitas yang dalam bahaya perang ideologi, bila memang dalam rangka membentengi mereka atau merehabilitasi aqidah mereka diperlukan adanya masjid –baik sebelumnya sudah ada atau belum-, maka dapat pula menggunakan dana zakat atas nama fi sabilillah.

Semoga penjelasan ini dapat memenuhi jawaban yang antum harapkan. Wallahu a’lam.*

Diasuh Kholiq Budi Santoso, Lc., M.H.I


Cara Muslimah Haidh Menyambut Lailatul Qadr


Cara Muslimah Haidh dan Nifas Menyambut Lailatul Qadr



Meski wanita haidh dan wanita yang mengalami nifas terhalang untuk tidak bisa melaksanakan beberapa bentuk ibadah, namun masih ada ibadah-ibadah lainnya yang bisa dilaksanakan di malam-malam bulan RamadhanPARA ulama sepakat, bahwasannya jika seorang muslimah mengalami haidh, maka dilarang baginya melaksakan shalat dan puasa.

Al Hafidz Ibnu Al Qaththan Al Fasi berkata,”Dilarang melaksanakan shalat, puasa, thawaf, disetubuhi melalui kemaluan dalam keadaan haidh, berdasarkan ijma` (kesepakatan) yang meyakinkan tanpa ada perselisihan di antara para pemeluk Islam…” (Al Iqna` fi Masai`il Al Ijm’a, 1/103)

Adapun membaca Al Qur`an, mayoritas ulama juga melarangnya, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Sedangkan Imam Malik ada dua periwayatan, periwayatan mayoritas adalah boleh membacanya dengan kadar sedikit dan periwayatan lainnya membolehkan, meski banyak. (Rahmah Al Ummah fi Ihkhtilaf Al ‘Aimmah, hal. 31)

Sedangkan hukum wanita yang mengalami nifas, sama hukumnya dengan wanita yang mengalami haidh berdasarkan ijma` (kesepakatan) para ulama. (Al Iqna` fi Masa`il Al Ijma`, 1/107)

Pahala Shalat Jalan Terus di Saat Haidh

عن أبى مُوسَى رضي الله عنه ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم: إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ صَحِيحًا مُقِيمًا. رواه البخاري

Artinya: Dari Abu Musa Radhiyallahu `anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ telah bersabda,”Jika seorang hamba menderita sakit atau ia adalah seorang yang sedang bersafar dicatat untuknya seperti di kala ia beramal dalam keadaan sehat dan bermukim. (Riwayat Al Bukhari)

Meski pun merupakan perkara yang diperselisihkan ada yang berpendapat bahwasannya jika seorang wanita dalam kondisi mengalami haidh atau nifas, maka ia tetap memperoleh pahala shalat, dengan mengqiyaskan haidh dan nifas dengan sakit dan safar. (lihat, Faidh Al Qadir, 1/569)

Dzikir dengan Al Qur`an dalam Hati

Jika mengikut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, maka membaca Al Qur`an di saat mengalami haidh atau nifas merupakan perkara yang dilarang. Namun, bukan berarti seorang wanita dalam kondisi haidh dan nifas tidak bisa beribadah melalui sarana Al Qur`an.

Imam An Nawawi menyatakan,”Adapun junub dan wanita haidh keduanya diharamkan membaca Al Qur`an sama saja, meski satu ayat atau lebih sedikit dari itu. Dan boleh bagi keduanya membatin Al Qur`an tanpa melafadzkannya. Dan boleh bagi keduanya memandang Al Qur`an dan membatinnya dalam hati.” (At Tibyan fi Adab Hamalah Al Qur`an, hal. 74)

Imam An Nawawi lebih memperjelas dalam Al Majmu’,”Tanpa menggerakkan lisan.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/387)

Mendengarkan Bacaan Al Qur`an

Mufti Jordan, Syeikh Nuh Ali Salman (1432 H) memfatwakan bahwasannya bacaan Al Qur`an diperbolehkan bagi wanita meskipun ia dalam keadaan haidh, karena yang diharamkan adalah membaca dalam kondisi junub dan haidh. Dan Rasulullah ﷺ membaca Al Qur`an yang didengar oleh ‘Aisyah, sedangkan saat itu ia dalam keadaan haidh, sebagaimana dalam Shahih Al Bukhari dan Ibnu Hibban.  (Fatawa Syeikh Nuh Ali Salman, Fatawa Ath Thaharah, no: 34)

Boleh Berdzikir dan Berdoa

Selain amalan-amalan di atas, ada pula amalan-amalan lainnya yang bisa dikerjakan seorang muslimah, meski ia dalam kondisi haidh atau nifas. Imam An Nawawi menyatakan,”Para ulama telah sepakat mengenai bolehnya dzikir dengan hati juga dengan lisan bagi orang yang berhadats, orang yang junub, wanita haidh dan para wanita yang mengalami masa nifas, yaitu tashbih, tahlil, tahmid, takbir, bershalawat atas Rasulullah ﷺ berdoa dan lainya.” (Al Adzkar, hal. 40)

Dzikir Sayyidah A’isyah di Malam Lailatul Qadr

Dalam dzikir di malam-malam sepuluh terakhir dianjurkan untuk mengucapkan doa sebagaiaman yang diucapkan oleh Sayyidah ‘Aisyah radhiyallau `anha yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: ” قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي “. رواه الترمذي, وقال: هذا حديث حسن صحيح.

Artinya: Dari Aisyah Radhiyallahu `anha ia berkata,”Aku berkata,’Wahai Rasulullah, tahukah engkau jika aku mengetahui malam apa saja di lailatul qadr, apa yang aku ucapkan di dalamnya? Beliau pun bersabda,’Katakan allahumma innaka afuwun tuhibbu al `afwa fa’fu `anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf menyukai pemaafan maka maafkanlah aku).’” (Riwayat At Tirmidzi, dan ia berkata: Ini hadits hasan shahih)

Galakkan Doa dan Dzikir di Malam-malam Terakhir

عن أبي هريرة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , قال : قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِينَ إِنَّ المَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ في الأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الحَصَى. رواه أحمد والبزار و الطبراني

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ telah bersabda,”Lailatul Qadr malam dua puluh tujuh atau malam dua puluh sembilan. Sesungguhnya para malaikat di malam itu di bumi, lebih banyak dari jumlah kerikil. (Riwayat Ahmad, Al Bazzar, Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Al Munawi menyatakan saat menjelaskan hadits di atas, bahwasannya para malaikat di waktu itu menghadiri mejalis-majelis dzikir dan mereka memintakan ampun kepada orang-orang mukmin dan mereka juga mangaminkan doa mereka. Dan jika fajar tiba mereka naik (ke langit). (Faidh Al Qadir, 2645)

Walhasil, meski wanita haidh dan wanita yang mengalami nifas terhalang untuk tidak bisa melaksanakan beberapa bentuk ibadah, namun masih ada ibadah-ibadah lainnya yang bisa dilaksanakan di malam-malam bulan Ramadhan, hingga tidak terlewatkan kesempatan untuk memperolah kebaikan-kebaikan yang dianugerahkan Allah Ta’ala di malam mulia itu. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memperoleh anugerah itu.Amin!!


Minggu, 17 Mei 2020

BMH Bagikan 450 paket Sembako

BMH Jatim Gerai Malang Bagikan 450 Paket Sembako di Desa Wonorejo Singosari



BMH Jatim gerai Malang kembali menyalurkan ratusan paket sembako untuk masyarakat terdampak Coronavirus di Desa Wonorejo Singosari Malang, Kamis (14/5). Dalam satu pekan warga kurang mampu di desa Wonorejo Singosari di gelontor bantuan sosial berupa sembako dari BMH Jatim gerai Malang. 

Pembagian paket sembako dibagikan secara door to door atau dari rumah ke rumah warga penerima. 
"Pada pembagiannya dibantu puluhan relawan BMH di desa Wonorejo, dalam satu pekan ini sudah 450 paket sembako untuk masyarakat terdampak Coronavirus di Desa Wonorejo Singosari," kata Karim. 

Dari 450 paket sembako yang di bagikan kepada warga, oleh BMH diberikan secara bertahap selama dua hari. 

Setiap paketnya menurut Karim, berisi beras 5 kg, mie instan, Minyak goreng, kue, gula pasir dan kue wafer. 

Sementara itu Kepala Desa Wonorejo Singosari mengaku bersyukur dan menyampaikan ungkapan terimakasihnya atas kepedulian BMH yang diberikan kepada warganya. 

"Atas nama pemerintah Desa Wonorejo kami menyampaikan terimakasihnya kepada BMH yang telah memberikan Kepeduliannya kepada warga kami," kata Syamsul Hadi. 

Pembagian paket sembako BMH Jatim gerai Malang untuk masyarakat kurang mampu terdampak COVID 19 di desa Wonorejo Singosari didukung penuh oleh keluarga besar Yani, keluarga besar Inaka dan Ibu-ibu Perum Tunggulwulung lainnya. (*)


Bersama Akademi Farmasi Salurkan Bantuan

Akademi Farmasi Putra Indonesia Salurkan Bantuan Melalui BMH Jatim Gerai Malang



Karyawan dan Dosen Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang turut peduli masyarakat terdampak covid 19. Kepedulian tersebut disalurkan melalui BMH JatimGerai Malang.
“Kami  bersama karyawan dan Dosen Akademi Farmasi Putra Indonesia memberikan sedekah kepedulian kepada masyarakat kurang mampu dengan melakukan penggalangan donasi kemudian untuk penyalurannya kami titipkan melalui BMH,” kata Direktur Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, Lailiyatus Shafah pada TIMES Indonesia, Rabu (13/5). 
Perempuan berhijab tersebut memberikan kepercayaan bahwa paket sembako yang dititipkan melalui BMH bisa disalurkan kepada masyarakat kurang mampu dengan tepat sasaran. 
“Kami percaya pada BMH karena lembaga zakat lebih paham medan serta kondisi masyarakat di lapangan,” jelasnya. 
Sementara itu Manajer Operasional BMH Jatim gerai Malang Sony Abdul Karim mengaku bersyukur mendapat amanah penyaluran berbagai bantuan sosial  dari corporasi dan perseorangan untuk masyarakat kurang mampu, termasuk diantaranya donasi peduli berupa paket sembako dari Akdemi Farmasi Putra Indonesia Malang. 
“Kami mengucapkan terimakasih atas kepercayaan para dermawan dan juga para dosen serta karyawan Akademi Farmasi Putra Indonesia untuk sinergi dengan lembaga kami dalam memberikan kepedulian masyarakat kurang mampu,” kata karim. 
Khusus di Bulan Ramadhan BMH Jatim gerai malang setiap harinya membagikan puluhan paket sembako kepada masyarakat kurang mampu terdampak coronavirus. 
“Salah satu program Ramadhan lembaga kami adalah Ekspedisi 30 hari berbagi paket sembako kepada masyarakat kurang mampu terutama lansia duafa. Dengan program tersebut di harapkan dapat membantu menjembatani antara para dermawan dengan orang yang membutuhkan bantuan,” ungkapnya. 
“Kami memiliki relawan yang bekerja secara profesional, insyaaloh amanah dari donatur kami salurkan tepat sasaran dan sesuai dengan harapan bersama,” imbuh Manajer Operasional BMH JatimGerai Malang Sony Abdul Karim. (*)
Penggalangan donasi dan dibelanjakan sembako berupa beras, telur, minyak goreng, gula pasir dan tepung terigu serta teh.